Branded Medicine

 

Metronidazol infus IV 5 mg/ml

 

 

Komposisi :

Tiap botol (100 ml) mengandung:

Metronidazol 500 mg

 

Farmakologi

FLADEX® infus IV bekerja sebagai bakterisid, amubisid dan trikomonasid. Mekanisme kerjanya belum diketahui secara pasti. Metronidazol tidak terionisasi pada pH fisiologik dan siap diambil oleh organisme atau sel anaerob. Pada organisme atau sel yang sensitif, metronidazol mengalami proses reduksi oleh protein transpor elektron potensial-redoks-rendah (contohnya nitroreduktase seperti ferredoxin) sehingga produk polar yang telah kehilangan gugus nitro menjadi tidak dikenal. Produk reduksi inilah yang tampaknya bertanggung jawab atas efek sitotoksik dan antimikroba metronidazol, yang meliputi gangguan pada DNA dan inhibisi sintesis asam nukleat.

Metronidazol sama efektifnya terhadap sel yang sedang membelah maupun yang tidak.

Metronidazol secara in vitro melawan berbagai spesies bakteri anaerob, terutama Bacteroides fragilis dan spesies Bacteroides lainnya, juga spesies lain seperti Fusobacteria, Eubacteria, Clostridia dan Streptococci anaerob. Metronidazol mempunyai spektrum yang luas dan aktif melawan mikroorganisme patogen, seperti Trichomonas vaginalis, Entamoeba histolytica, Giardia lamblia, Balantidium coli dan organisme penyebab gingivitis ulceratif akut. Metronidazol tidak aktif melawan bakteri aerob dan anaerob fakultatif.

 

Farmakokinetik

Absorpsi

Setelah pemberian infus IV selama 1 jam dengan dosis 15 mg/kgBB kemudian diikuti dengan pemberian infus IV metronidazol Hcl selama 1 jam dengan dosis 7,5 mg/kgBB setiap 6 jam pada orang dewasa sehat, konsentrasi puncak metronidazol dalam plasma rata-rata 26 μg/ml dan konsentrasi yang mantap dalam plasma rata-rata 18 μg/ml. Dalam satu studi crossover pada orang dewasa, daerah bawah kurva (AUCs = area under the concentration - time curves) tidak ada perbedaan secara signifikan pada pemberian dosis metronidazol tablet 500 mg dengan dosis infus IV tunggal 500 mg metronidazol HCl yang diberikan selama 20 menit.

 

Distribusi

Metronidazol didistribusikan secara luas ke dalam jaringan dan cairan tubuh termasuk tulang, empedu, air liur, cairan pleural, cairan peritoneal, cairan vagina, cairan seminal, cairan serebrospinal (CSF = cerebrospinal fluid), dan abses hati dan otak. Distribusi pada pemberian oral maupun pemberian infus IV adalah sama.

Konsentrasi metronidazol dalam cairan serebrospinal dilaporkan sebanyak 43% dari konsentrasi metronidazol dalam plasma, pada pasien dengan uninflamed meninges serta sebanding atau lebih besar dari konsentrasi metronidazol dalam plasma pada pasien dengan inflamed meninges. Metronidazol juga didistribusi ke dalam eritrosit. Ada data yang menduga bahwa volume distribusi metronidazol menurun pada pasien geriatrik dibandingkan pasien usia muda, hal ini mungkin merupakan akibat dari menurunnya ambilan metronidazol oleh eritrosit pada pasien geriatrik.

Metronidazol terikat kurang dari 20% pada protein plasma.

Metronidazol melewati plasenta, didistribusikan ke dalam ASI dengan konsentrasi yang sama dengan konsentrasi metronidazol dalam plasma.

 

Eliminasi:

Waktu paruh dalam plasma dari metronidazol dilaporkan 6-8 jam pada orang dewasa dengan fungsi ginjal dan hepar normal. Suatu studi dengan menggunakan metronidazol HCl yang dilabel, waktu paruh dari metronidazol bentuk utuh rata-rata 7,7 jam dan waktu paruh dari radioaktivitas total rata-rata 11,9 jam. Waktu paruh metronidazol dalam plasma tidak dipengaruhi oleh perubahan fungsi ginjal, akan tetapi waktu paruh dapat lebih panjang pada pasien gangguan fungsi hepar. Studi pada orang dewasa dengan penyakit hepar alkoholik dan gangguan fungsi hepar memperlihatkan bahwa waktu paruh rata-rata 18,3 jam (kisaran: 10,3-29,5 jam).

Sekitar 30-60% dari dosis metronidazol oral atau infus IV dimetabolisme di hati dengan cara hidroksilasi, oksidasi rantai samping, dan konjugasi glukuronida. Metabolit utama, 2-hidroksi metronidazol, memiliki aktivitas antibakteri dan antiprotozoa.

 

Indikasi:

  • Infeksi yang disebabkan oleh kuman anaerob dan kuman lainnya yang sensitif terhadap metronidazol.

  • Pencegahan infeksi anaerob sebelum dan sesudah operasi.

  • Pada pasien yang dikontraindikasikan atau tidak mungkin menerima pengobatan secara oral.

 

Kontraindikasi

  • Pasien yang hipersensitif terhadap obat atau derivat nitroimidazol lainnya. Akan tetapi, desensitisasi dengan sangat berhati-hati telah diusahakan pada beberapa pasien yang hipersensitif yang sangat memerlukan terapi metronidazol.

  • Kehamilan trimester I:

Obat yang dapat digunakan selama kehamilan sebaiknya hanya yang memang sangat dibutuhkan. Para ahli mengkontraindikasikan penggunaan metronidazol pada trimester pertama kehamilan.

 

Dosis dan cara pemberian:

Cara pemberian:

Metronidazol diberikan secara infus IV kontinu atau intermiten. Selama pemberian metronidazol sedapat mungkin jangan dicampur dengan obat lain dan infus IV lainnya sebaiknya dihentikan.

Metronidazol infus diberikan secara intravena dengan kecepatan 5 ml/menit.

 

Dosis Dewasa:

Infeksi bakteri anaerob:

Untuk terapi infeksi serius yang disebabkan oleh bakteri anaerob, metronidazol atau metronidazol HCl diberikan secara infus IV pada awalnya dan diganti dengan metronidazol oral saat kondisi pasien telah memungkinkan. Infus IV biasanya diberikan dalam waktu lebih dari 1 jam. Untuk dewasa diberikan dosis awal infus IV 15 mg/kgBB diikuti dengan dosis pemeliharaan 7,5 mg/kgBB setiap 6 jam.

Dosis maksimum untuk dewasa: 4 g/hari (oral/infus IV).

Terapi selama 7 hari biasanya memuaskan bagi kebanyakan pasien tetapi, tergantung pada pemeriksaan klinik dan bakteriologik, dokter dapat memutuskan untuk memperpanjang masa terapi. Tetapi harus digantikan secepat mungkin dengan terapi oral.

 

Profilaksis:

Profilaksis pra dan pasca operatif:

Dosis dewasa 15 mg/kgBB dengan infus IV selama 30-60 menit, pemberiannya telah selesai 1 jam sebelum operasi dan, jika perlu, 7,5 mg/kgBB dengan infus IV selama 30-60 menit pada 6 dan 12 jam setelah dosis awal. Dosis awal praoperatif harus selesai diinfuskan sekitar 1 jam sebelum dilakukan operasi untuk memastikan sudah memadainya konsentrasi metronidazol dalam serum dan jaringan pada saat operasi.

Penggunaan metronidazol untuk profilaksis harus dibatasi pada hari dilakukannya operasi dan tidak boleh dilanjutkan selama lebih dari 12 jam setelah operasi. Sebagai alternatif, untuk profilaksis perioperatif pada operasi kolorektal, 500 mg - 1 g metronidazol diberikan melalui infus IV 1 jam sebelum operasi dan dosis 500 mg diberikan lewat infus IV 8 dan 16 jam sesudah operasi.

 

Efek samping:

Pada saluran cerna:

Nausea, vomiting, abdominal discomfort, rasa logam pada lidah, dan diare biasanya dilaporkan pada pemakaian metronidazol secara infus IV.

Pada sistem saraf:

Neuropati perifer, yang ditandai dengan kesemutan (numbness), tingling (sensasi seperti tertusuk), atau paresthesia apabila serangannya ekstrim, dan serangan kejang jarang dilaporkan pada pemakaian metronidazol oral ataupun infus IV. Neuropati perifer biasanya reversibel jika metronidazol dihentikan, tetapi dapat juga tetap ada pada pasien yang menerima terapi yang lama atau lebih tinggi dari dosis yang direkomendasikan.

Efek hematologi:

Lekopenia dan trombositopenia ringan dan sementara pernah dilaporkan, namun jarang. Aplasia sumsum tulang pernah dilaporkan pada sedikitnya 1 pasien.

Efek genitourinaria:

Urin berwarna gelap atau coklat kemerahan pada pemakaian metronidazol oral atau infus IV karena adanya pigmen larut air yang merupakan hasil metabolisme obat.

Reaksi sensitivitas:

erythematous rash dan pruritus pada pasien yang menggunakan metronidazol secara infus IV. Tromboflebitis dapat diminimalkan atau dihindari dengan cara menghindari penggunaan jangka lama dari kateter infus IV yang indwelling.

Rasa nyeri atau infeksi saluran pernapasan bagian atas dilaporkan pada 1% dari pasien yang menerima terapi kombinasi dengan tetrasiklin Hcl, metronidazol dan bismut subsalisilat (pada umumnya dengan terapi supresi asam) pada uji klinik.

Hipertensi, infark miokard, dan artritis rematoid dilaporkan pada kurang dari 1% dari jumlah pasien yang mendapatkan terapi kombinasi seperti di atas.

 

Peringatan dan perhatian:

  • Bila terjadi gejala abnormal pada saraf selama pemakaian metronidazol oral atau infus IV, maka terapi harus dihentikan segera.

Hati-hati penggunaan pada pasien dengan penyakit pada susunan saraf pusat.

  • Hati-hati penggunaan metronidazol pada pasien yang mengidap atau pernah mengalami diskrasia darah. Jumlah lekosit total dan diferensial harus diketahui sebelum dan sesudah terapi metronidazol, terutama jika terapi metronidazol diberikan secara berulang-ulang (bukan dosis tunggal).

  • Hindari penggunaan metronidazol bersamaan dengan minuman beralkohol atau pada pasien alkoholik.

  • Penggunaan metronidazol peroral atau infus IV dapat menyebabkan kandidiasis oral, vaginal atau intestinal.

  • Hati-hati penggunaan metronidazol pada pasien dengan gangguan fungsi hati berat. Dosis sebaiknya dikurangi dan konsentrasi metronidazol harus dimonitor.

  • Hati-hati pada penggunaan infus metronidazol bersama-sama dengan kortikosteroid dan pada pasien yang cenderung mengalami edema.

  • Anak-anak:

Penggunaan pada anak-anak untuk beberapa indikasi belum teruji keamanannya (lihat indikasi, dosis dan cara pemberian).

  • Lanjut usia:

Karena pasien lanjut usia lebih sering mengalami penurunan fungsi hati, maka penyesuaian dosis pada pasien lanjut usia perlu diperhatikan.

  • Mutagenisitas dan karsinogenisitas:

Metronidazol menunjukkan aktivitas mutagenik pada beberapa studi in vitro. Akan tetapi, pada studi-studi in vivo gagal menunjukkan efek-efek mutagenik.

  • Penggunaan metronidazol secara oral memberi efek karsinogen pada mencit dan tikus, tapi studi yang sama pada marmut (hamsters) hasilnya negatif (tidak ada tanda-tanda karsinogen). Untuk pemakaian dalam waktu lama, studi terkontrol dibutuhkan untuk mengevaluasi efek karsinogen dan mutagenik dari metronidazol pada makhluk hidup.

  • Kehamilan, fertilitas dan laktasi:

Penggunaan metronidazol untuk wanita hamil masih belum teruji keamanannya, gunakan hanya jika benar-benar diperlukan. (Lihat kontraindikasi).

Studi reproduksi pada mencit dengan menggunakan metronidazol 6 kali lebih besar dari dosis dewasa, tidak memperlihatkan adanya gangguan fertilitas.

Hentikan pemberian ASI sampai 24 jam setelah pemberian metronidazol.

 

Interaksi obat:

Antikoagulan kumarin:

Metronidazol oral atau infus IV memperkuat efek antikoagulan oral sehingga memperpanjang waktu protrombin. Karena itu pemakaian metronidazol bersama antikoagulan sebaiknya dihindari sebisa mungkin. Jika metronidazol digunakan pada pasien yang menerima antikoagulan oral, waktu protrombin harus dimonitor dan dosis antikoagulan harus disesuaikan dengan dosis metronidazol.

Alkohol:

Metronidazol dapat menghambat alkohol dehidrogenase dan enzim oksidator alkohol lainnya. Reaksi-reaksi seperti muka kemerahan, sakit kepala, mual, muntah, kejang abdominal dan berkeringat telah ditemukan pada sejumlah pasien yang mengkonsumsi alkohol saat menerima metronidazol oral ataupun infus IV. Sebaiknya hindari konsumsi alkohol selama pemakaian metronidazol atau paling tidak 1 hari (atau 3 hari dengan tablet extended release atau kapsul metronidazol) setelah terapi metronidazol selesai.

Disulfiram:

Pemakaian disulfiram dengan metronidazol dapat menyebabkan psikosis akut dan konfusi pada beberapa pasien. Karena itu, kedua obat jangan digunakan bersamaan sampai 2 minggu setelah pemakaian disulfiram berakhir.

Fenobarbital:

Penggunaan metronidazol bersamaan dengan fenobarbital menurunkan waktu paruh metronidazol dalam serum. Ini dapat disebabkan oleh peningkatan metabolisme dari antiinfeksi. Konsentrasi serum metronidazol menurun dan konsentrasi serum 2-hidroksi0metil metronidazol meningkat pada pasien yang menerima fenobarbital.

Lithium:

Dimulainya terapi metronidazol jangka pendek pada pasien yang distabilkan menggunakan lithium dengan dosis relatif tinggi dilaporkan meningkatkan konsentrasi lithium dalam serum, menyebabkan tanda-tanda toksisitas pada beberapa pasien. Pada beberapa kasus, gejala kerusakan renal (sebagai contoh, peningkatan tetap pada konsentrasi kreatinin serum yang persisten, hipernatremia, urin yang mengalami dilusi secara abnormal).

Terfenadin dan astemizol:

Metronidazol dapat berinteraksi dengan astemizol dan terfenadin menyebabkan peningkatan efek samping jantung yang serius.

Obat-obat lain:

Neutropenia sementara dilaporkan pada 12 pasien yang menggunakan metronidazol oral atau infus IV bersama dengan fluorourasil IV dan sedikitnya 1 pasien yang menggunakan metronidazol bersama azatioprin. Walaupun disarankan agar pasien yang menerima metronidazol dengan fluorourasil atau azatioprin dapat berisiko lebih besar terkena neutropenia dibanding bila obat-obatan tersebut digunakan secara tunggal, ini tidak secara jelas dibuktikan dan dibutuhkan studi lebih lanjut.

 

Kemasan dan nomor registrasi:

Kotak, botol @ 100 ml, DKL0305032749A1

 

HARUS DENGAN RESEP DOKTER

 

SIMPAN DI TEMPAT KERING PADA SUHU ANTARA 25-30oc,

TERLINDUNG DARI CAHAYA.