Press Release

Maret, 15 2012

11 November 2008 - Aterosklerosis, atau “pengerasan pembuluh darah,” berarti timbunan karang dan hilangnya kelenturan pembuluh darah. Aterosklerosis koroner berdampak pada pembuluh darah yang membawa darah menuju jantung, dan dapat memicu serangan jantung, sementara aterosklerosis karotid koroner berdampak pada pembuluh darah yang membawa darah ke otak dan dapat memicu stroke.

Serangan jantung merupakan suatu keadaan yang bersifat mengancam jiwa. Jika terlambat ditanggulangi, besar kemungkinan penderita akan mengalami kematian. Berdasarkan data dari Departemen Kesehatan RI. dan Yayasan Penyakit Jantung, penyakit jantung merupakan penyebab kematian utama di Indonesia.

Serangan jantung (heart attack/infark miokard) merupakan keadaan dimana otot jantung (miokardium) mengalami kerusakan atau kematian. Hal ini dapat disebabkan karena terhentinya suplai darah yang membawa oksigen. Suplai darah dapat terganggu akibat:

  1. Salah satu nadi koroner terblokade selama beberapa saat, hal ini bisa akibat spasme (mengencangnya nadi koroner), atau akibat trombus (penggumpalan darah).
  2. Adanya penyempitan dan penyumbatan oleh penumpukan dari zat-zat lemak (kolesterol, trigliserida) yang makin lama makin banyak dan menumpuk di bawah lapisan terdalam (endotelium) dari dinding pembuluh nadi.

Gejala-gejala penyakit jantung koroner adalah sebagai berikut:

  1. Rasa tertekan (seperti ditimpa beban, nyeri, terjepit, diperas, dibakar) di dada, dan dapat menjalar ke lengan kiri, leher, dan punggung.
  2.  Tercekik atau sesak selama lebih dari 20 menit.
  3. Keringat dingin, lemah, jantung berdebar, dan pingsan.
  4. Semakin berkurang dengan istirahat, tetapi bertambah berat dengan aktivitas.

Penyakit jantung juga merupakan salah faktor risiko terjadinya stroke. Stroke ditandai dengan timbulnya gangguan/gejala sistem syaraf pusat (otak), baik yang bersifat lokal maupun global (penurunan kesadaran) yang diakibatkan oleh terganggunya peredaran darah di otak yang berlangsung lebih dari 1 hari.

Stroke dapat terjadi pada semua tingkatan usia, frekuensinya lebih tinggi pada orang yang memiliki faktor-faktor risiko untuk terjadinya stroke. Faktor-faktor risiko stroke yang utama adalah: 

  1. Hipertensi
  2. Penyakit Jantung
  3. Diabetes
  4. Hiperkolesterol
  5. Obesitas
  6. Merokok
  7. Pengguna narkotika
  8. Hiperurikemia (asam urat)

Untuk mencegah terjadinya stroke atau stroke berulang yaitu dengan hidup sehat, mengendalikan faktor risiko dan terapi obat-obatan.

Aspek Farmakoekonomi

Jadi baik penyakit jantung, maupun stroke, diperlukan pengobatan yang teratur dan jangka panjang. Dari sisi farmakoekonomi, tentunya biaya pengobatan merupakan hal yang utama dari seseorang untuk patuh berobat agar didapatkan kesembuhan yang optimal. Istilah Farmakoekonomi diartikan sebagai deskripsi dan analisis dari biaya terapi obat untuk sistem pelayanan kesehatan dan masyarakat. Jadi Farmakoekonomi meliputi: identifikasi, mengukur, dan membandingkan biaya dari sumber daya yang dipakai dan konsekuensinya dalam bentuk klinis, ekonomi, dan humanistik.

Dari Farmakoekonomi, dapat menjelaskan:

  1. Obat-obat apa saja yang layak dimasukkan ke dalam formularium Rumah Sakit
  2. Obat apa yang terbaik untuk pasien tertentu?
  3. Obat apa yang terbaik untuk dikembangkan oleh industri farmasi?
  4. Obat apa yang terbaik untuk penyakit tertentu?

Tentunya tidak sedikit biaya yang dikeluarkan oleh pasien, dimana penyakit yang diderita umumnya bukan hanya 1 jenis penyakit saja. Komplikasi akibat penyakit jantung dan stroke merupakan masalah yang sering dialami penderita. Biaya yang dikeluarkan untuk berobat juga meningkat, dan hal ini sering terjadi dimana penderita menghentikan pengobatan akibat mahalnya biaya pengobatan.

Untuk itu, sudah saatnya dipikirkan oleh dunia farmasi, bahwa obat yang baik tidaklah harus obat yang mahal. Tentunya harus memenuhi mutu dan standard yang diakui oleh BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan). Oleh karena itu, PT. Dexa Medica meluncurkan obat baru untuk terapi aterosklerosis dengan harga terjangkau, namun efikasi dan keamanannya sesuai dengan standard yang telah ditetapkan. Produk tersebut adalah clopidogrel PT. Dexa Medica.

Suatu obat boleh dipasarkan setelah mendapat izin dari BPOM. Salah satu persyaratan BPOM adalah harus melalui uji BA/BE (Bioavailabilitas dan Bio Ekivalen) yang baik. Istilah Bioavailabilitas adalah: persentase zat yang berkhasiat dalam suatu produk obat yang mencapai/tersedia dalam sirkulasi sistemik dalam bentuk utuh/aktif setelah pemberian produk obat tersebut, dan diukur kadarnya dari dalam darah terhadap waktu atau dari ekskresinya dalam urin.

Obat yang dikatakan bioekivalen jika mempunyai ekivalensi farmasetik (zat berkhasiat, jumlah dan bentuk sediaan sama) dan pada pemberian dengan dosis yang sama akan menghasilkan bioavailabilitas yang sebanding. Jadi efeknya akan sama, baik dalam efikasi maupun keamanan.

Mengapa perlu dilakukan uji Bioavailabilitas dan Bioekivalen? Untuk menjamin efikasi, keamanan dan mutu produk obat yang beredar. Saat ini ada beberapa badan resmi yang dapat melakukan uji BA/BE yaitu: PT. Equilab International, Pharma Metric, Clinisindo, San-Clin-EQ, BE Labs, dan Econolab. Tentunya badan uji BA/BE ini adalah badan yang independen, jadi hasil uji BA/BE adalah murni dan tidak dapat dimanipulasi oleh pihak manapun.

Bagaimana dengan hasil uji BA/BE dari Clopidogrel PT. Dexa Medica? Clopidogrel yang diproduksi oleh PT. Dexa Medica, telah melalui uji BA/BE dan dinyatakan bioekivalen dengan reference product. Jadi untuk efikasi, dan keamanan adalah sama dengan reference product.

Clopidogrel adalah obat yang sangat dibutuhkan oleh penderita penyakit jantung, stroke, serta penyempitan pembuluh darah perifer. Pada penderita tersebut terjadi gangguan sirkulasi darah, dimana semakin diperburuk oleh trombus yang dibentuk terus menerus. Untuk itu pembentukan trombus harus dicegah dengan cara menghambat agregasi platelet.

Clopidogrel bekerja menghambat ikatan antara ADP dengan reseptornya, sehingga menghambat terjadinya agregasi platelet.

Pemberian Clopidogrel diperlukan dalam jangka waktu yang lama. Untuk kasus infark miokard, pemberian Clopidogrel dianjurkan selama 1 tahun, juga untuk kasus stroke selama 3 bulan. Clopidogrel merupakan obat dalam bentuk tablet 75 mg. Kiranya dengan diluncurkannya Clopidogrel PT. Dexa Medica, maka tersedia produk dengan mutu, efikasi dan keamanan sesuai standar BPOM serta harga terjangkau, sehingga dapat meningkatkan pelayanan kesehatan di Indonesia.

*****

Untuk keterangan lebih lanjut, hubungi:

Dwi Nofiarny, Apt, MS, Medical Information and Clinical Research PT. Dexa Medica

Telp: 021-7509575. Ext. 101.