Press Release

Januari, 28 2016

Persaingan pasar global semakin dinamis dan semakin ketat, termasuk persaingan produk farmasi. Untuk itu, Indonesia harus terus mengembangkan riset dan terus menggali potensi memproduksi bahan baku obat, khususnya bahan baku aktif obat dari bahan alam asli Indonesia. Dengan potensi bahan alam di Indonesia yang berlimpah, maka Indonesia memiliki potensi yang besar memproduksi bahan baku aktif obat dari herba Indonesia. Ini akan menjadi salah satu keunggulan bersaing menghadapi pasar global.

PT. Dexa Medica- sebagai salah satu perusahaan farmasi terkemuka di Indonesia sejak tahun 2005 telah melakukan riset untuk menemukan bahan baku aktif obat herbal dan kemudian diproduksi menjadi obat herbal modern. Melalui DLBS (Dexa Laboratories of Biomolecular Sciences) PT. Dexa Medica, telah melakukan riset dan menemukan berbagai bahan baku aktif obat herbal dari bahan alam asli Indonesia.

“DLBS PT. Dexa Medica telah menemukan berbagai bahan baku aktif obat herbal. Ini akan menjadi keunggulan daya saing nasional. Untuk itu. ke depan riset dan pengembangan Herbal Medicine perlu terus di dorong,” kata Executive Director DLBS PT. Dexa Medica, Dr. Raymond R. Tjandrawinata, MBA, PhD, FRSC, kepada media nasional dan kawasan di Gedung DLBS PT. Dexa Medica, Cikarang, Jawa Barat, pada Rabu, 27 Januari 2016.

Bahan baku obat yang dihasilkan oleh fasilitas produksi di DLBS (Dexa Laboratories of Biomolecular Sciences) PT. Dexa Medica ini, lanjut Raymond Tjandrawinata, merupakan hasil riset sendiri yang berasal dari biodiversitas Indonesia. Dimulai dari penelitian biomolekuler, percobaan farmakologi hewan hingga uji klinis pada pasien-pasien di berbagai kota di Indonesia.

Keunggulan Bahan Baku Aktif Obat Herbal dari bahan alam asli Indonesia yang diproduksi oleh DLBS PT. Dexa Medica adalah sebagai berikut;

  • Menggunakan Biodiversitas Indonesia.
  • Menggunakan Prinsip farmakologi modern & pendekatan Biomolekular dalam mencari obat baru.
  • Melakukan uji pra klinis dan uji klinis untuk melengkapi medical-evidence sesuai prinsip Good Clinical Practices (GCP).
  • Dilakukan uji pada hewan coba secara etis sesuai sertifikasi AAALAC International (Association for Assessment and Accreditation of Laboratory Animal Care International).
  • Diproduksi dengan fasilitas yang sudah distandarisasi: CPBBAOB (Cara Pembuatan Bahan Baku Aktif Obat yang Baik), CPOTB-IEBA (Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik- Industri Ekstrak Bahan Alam), dan persyaratan internasional, seperti ISO22000 dan HACCP.
  • Sarat muatan Intellectual Property Right (HaKI).

Fasilitas produksi DLBS PT. Dexa Medica ini telah memenuhi persyaratan Industri Ekstrak Bahan Alam (IEBA), sebagaimana yang terdapat pada Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 006 Tahun 2012, tentang Industri dan Usaha Obat Tradisional.

Fasilitas produksi yang dimiliki DLBS telah melalui proses yang tervalidasi dalam sistem produksi dengan dukungan teknologi modern, telah tersertifikasi oleh Sistem Jaminan Halal (SJH) dengan nilai A, AAALAC International dan sertifikasi ISO 22000:2005 (Sistem Manajemen Keamanan Pangan).

Sedangkan fasilitas produksi barang jadi DLBS dibuat di fasilitas produksi PT Dexa Medica  yang mendapatkan sertifikasi GMP (Good Manufacturing Practices), CPOTB (Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik), ISO 9001:2008, dan ISO 14001:2004.

DLBS Temukan Berbagai Bahan Baku Aktif Obat Herbal Indonesia
Raymond R. Tjandrawinata menambahkan bahwa DLBS memiliki visi menjadi organisasi berbasis riset yang diperuntukkan bagi penemuan, pengembangan, dan pembuatan produk-produk farmasetikal, biofarmasetikal, nutrasetikal. Sejak tahun 2011, produk hasil temuan DLBS berupa novel Bioactive Fraction, sudah dipasarkan oleh PT. Dexa Medica yang telah memenuhi persyaratan Permenkes Nomor 006, Tahun 2012.

“Bahan baku obat yang dihasilkan oleh fasilitas produksi di DLBS ini merupakan hasil riset sendiri yang berasal dari biodiversitas dari Indonesia. Dimulai dari penelitian biomolekuler, percobaan farmakologi hewan, hingga uji klinis pada pasien-pasien di berbagai kota di Indonesia,” urai Raymond R. Tjandrawinata menambahkan.

DLBS PT. Dexa Medica memiliki komitmen dalam kegiatan pencarian obat baru, yaitu sejak tahun 2005. Riset yang dilakukan oleh DLBS PT. Dexa Medica juga berbeda dengan yang dilakukan oleh perusahaan farmasi lain. Riset bahan baku alam untuk obat-obatan yang dilakukan DLBS PT.Dexa Medica melalui Herbal, Bioteknologi, dan Mikrobial.

Keberhasilan DLBS PT. Dexa Medica memproduksi bahan baku aktif obat herbal ini, sekaligus ikut mendukung program pemerintah dalam hal Kemandirian Bahan Baku Aktif Obat Nasional. Selain itu, momentum ini juga memberikan nilai tambah bagi Indonesia karena bahan baku aktif obat herbal yang diproduksi oleh DLBS telah dipatenkan tidak hanya di Indonesia, tetapi juga dipatenkan di dunia internasional melalui skema Patent Cooperation Treaty.

Periset di DLBS mempelajari kandidat bahan baku aktif obat herbal dari aspek kimia dan biologi pada tingkat molekular melalui sebuah proses yang disebut TCEBS (Tandem Chemistry Expression Bioassay System). TCEBS merupakan suatu metodologi penyaringan sistematis untuk menemukan kandidat yang paling aktif dan berpotensi untuk produk yang tengah diteliti, diikuti bioassay system yang memanfaatkan teknik ekspresi gen dan protein array.

Fasilitas Produksi DLBS PT Dexa Medica di Cikarang, Jawa Barat, mampu memproduksi bahan baku aktif obat herbal dalam bentuk Bioactive Fraction. “Kami perusahaan farmasi pertama di Indonesia yang memproduksi Bioactive Fraction dari bahan herbal,” ujarnya.

Adalah Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Ibu dr. Nafsiah Mboi, SpA, M.P.H. yang menyerahkan Ijin Industri Ekstrak Bahan Alam (IEBA) dan meresmikan Fasilitas Produksi Bioactive Fraction DLBS Dexa Medica pada Selasa, 20 Agustus 2013.

Semakin berkembangnya produksi bahan baku aktif obat herbal, akan mendorong petani tanaman obat herbal untuk meningkatkan pasokan bahan tumbuhan obat. Sehingga secara nasional akan berdampak kepada penguatan ekonomi nasional, demikian diungkapkan Raymond Tjadrawinata.

Berikut ini sejumlah produk Obat Herbal Modern hasil riset DLBS dari bahan alam asli Indonesia yang diproduksi PT. Dexa Medica, yang sudah dipasarkan:

  • HerbaVOMITZ adalah obat herbal modern yang dibuat dari herbal alami yaitu Zingiber Officinale (Jahe) yang diproses dengan teknologi modern ‘Advanced Fractionation Technology (AFT)’, untuk menghasilkan zat aktif Avominol™. AFT merupakan proses ekstraksi untuk mendapatkan fraksi spesifik yang memiliki aktivitas biologis untuk meredakan kembung dan mual. Dosis konsumsi sebanyak 1–3 kali sehari sampai gejala hilang, dan tergantung dari kondisi tubuh masing-masing. Setiap Tablet HerbaVOMITZ mengandung Avominol fraksi rimpang Zingiber Officinale 150 mg.
  • HerbaKOF adalah obat herbal modern yang dibuat dari herbal alami yaitu dari ekstrak daun Legundi, rimpang Jahe, daun Saga, dan buah Mahkota Dewa yang diproses melalui teknologi modern ‘Advanced Fractionation Technology (AFT)’, untuk menghasilkan zat aktif Reconyl™. HerbaKOF aman untuk dikonsumsi siapa saja, termasuk ibu menyusui dan anak-anak di atas usia 6 tahun. Dosis HerbaKOF untuk dewasa adalah; 3 kali sehari 15 ml & untuk anak di atas usia 6 tahun adalah; 3 kali sehari 5 ml.
  • Inlacin adalah obat oral anti diabetes untuk pasien yang menderita Diabetes tipe 2 (tidak bergantung pada Insulin). Inlacin bekerja dengan menurunkan resistensi insulin dan meningkatkan asupan glukosa oleh sel-sel. Inlacin, yang mengandung Bioactive Fraction DLBS3233 dikembangkan dari Lagerstroemia speciosa dan Cinnamomum burmannii, yang bekerja meningkatkan sensitivitas asupan glukosa dan insulin. Selama pengujian klinis, Inlacin menunjukkan kemampuan dalam mengontrol gula darah, kadar insulin, dan lipoprotein lainnya termasuk High Density Lipoprotein (HDL), Low Density Lipoprotein (LDL), trigliserida, dan kadar kolesterol total.
  • Disolf mengandung ekstrak DLBS 1033 Lumbricus rubellus 490 mg, yang berkhasiat untuk membantu sirkulasi darah. Dosisi untuk Dewasa: Pengobatan (1-2 tablet, 3 kali sehari 0,5-1 jam sebelum makan), Pencegahan (1 tablet, 2 kali sehari, 0,5-1 jam sebelum makan)
  • Redacid untuk membantu meringankan gangguan pada lambung dengan mengurangi asam lambung dan berfungsi sebagai gastroprotector. Redacid mengandung Bioactive Fraction DLBS2411 yang difraksionasi dari herba Cinnamomum burmannii.
  • Vitafem Free Me adalah obat herbal modern yang mengandung Bioactive Fraction DLBS1442 dari fraksi Phaleria macrocarpa- yang diindikasikan untuk Premenstrual Syndrome (PMS). Premenstrual syndrome dikarakterisasi dengan munculnya gejala emosi dan fisik selama fase sebelum terjadinya menstruasi. Bioactive Fraction DLBS1442 dapat menurunkan rasa nyeri yang muncul sebelum dan selama menstruasi.
  • Phalecarps adalah obat herbal modern yang mengandung Bioactive Fraction DLBS1425 telah dikembangkan dari Phaleria macrocarpa untuk mengobati kanker payudara dan kanker padat lainnya. Dengan kemampuannya sebagai anti-proliferatif, anti-inflamasi, dan anti-angiogenik, Phalecarps secara farmakologi baik untuk pengobatan kanker payudara serta kanker padat lainnya.
  • STIMUNO adalah obat herbal Fitofarmaka untuk imunomodulator (penguat sistem imun) yang terbuat dari herbal asli Indonesia (Phyllanthus niruri- Meniran), yang dapat meningkatkan daya tahan tubuh. STIMUNO tersedia dalam sediaan Sirup untuk Anak dan STIMUNO Forte dalam bentuk kapsul untuk Dewasa. Baru-baru ini STIMUNO meluncurkan varian baru yaitu STIMUNO Sirup rasa Anggur.

Potensi Pasar ASEAN dan Pasar Global
Di kawasan ASEAN telah dilakukan kesepakatan ASEAN Economic Community- AEC (Masyarakat Ekonomi Asean-MEA) yang dilaksanakan mulai tahun 2015. Ini merupakan program negara-negara ASEAN untuk lebih meningkatkan kegiatan ekonomi, khususnya perdagangan untuk mewujudkan single market. Akses perdagangan menjadi lebih mudah, dengan diterapkannya penghapusan bea masuk (Free Trade Area).

MEA akan menjadi peluang sekaligus tantangan bagi Indonesia. Indonesia harus memiliki daya saing yang kuat di pasar Asean, melalui kualitas produk dan tenaga kerja kempeten. ASEAN sebagai pasar tunggal, maka akan terjadi free flow atas barang, jasa, investasi/modal. MEA juga akan memberikan peluang bagi industri farmasi, khususnya produk obat herbal Indonesia, dimana potensi sumber daya alamnya, dapat disebut yang terbesar di Asean.

Indonesia memiliki kekayaan biodiversitas terbesar ke dua di dunia setelah Brasil, yang akan menjadi sumber daya alam untuk menghasilkan bahan baku obat herbal. Pemerintah Indonesia diketahui telah melakukan riset tanaman obat dan jamu dengan menginventarisasi sebanyak 15.773 ramuan dari 209 suku bangsa. Mengidentifikasi 1.740 spesies tanaman obat dari 13.576 nama daerah tanaman obat.

Sumber daya alam Indonesia memiliki sekitar 30.000 spesies tumbuhan, dan 940 spesies di antaranya adalah tumbuhan berkhasiat obat. Inilah potensi besar yang dimiliki Indonesia untuk mendapatkan sumber bahan baku obat herbal.

Mengutip data dari Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kemenkes RI., pada 2006 pasar obat herbal di Indonesia mencapai Rp 5 triliun. Tahun 2007 meningkat menjadi Rp 6 triliun, Tahun 2008 naik lagi menjadi Rp 7,2 triliun. Pada 2012 mencapai Rp 13 triliun atau sekitar 2% dari total pasar obat herbal di dunia.

“Pada tahun 2016 ini, saya perkirakan pasar obat herbal Indonesia akan mencapai Rp 18 Triliun. Peluang pasar ekspor obat herbal Indonesia ke kawasan Asean, saya prediksi juga akan meningkat terkait diberlakukannya pasar MEA,” kata Raymond Tjandarwinata.

Gaya hidup back to nature, juga memberikan andil peningkatan konsumsi obat herbal secara global, yaitu diperkirakan mencapai USD 100 miliar pada 2015. Ini sebuah peluang yang perlu diantisipasi.

****

Untuk informasi lebih lanjut silakan menghubungi: Karyanto, Corporate Communication Dexa Group, (HP: 0811174496. Email: karyanto@dexagroup.com).