OGB

 

CIPROFLOXACIN

Infus i.v. 0,2%

 

 

Komposisi:

Tiap ml mengandung:

Siprofloksasin laktat setara dengan Siproflokasain basa 2,0 mg

 

Farmakologi:

Siprofloksasin merupakan antibiotik golongan fluorokuinolon, bekerja dengan cara mempengaruhi enzim DNA gyrase pada bakteri.

Siprofloksasin merupakan antibiotik untuk bakteri gram positif dan negatif yang sensitif.

Bakteri gram positif yang sensitif: Enterococcus faecalis, Staphylococcus aureus, Staphylococcus epidermis, Streptococcus pyogenes.

Bakteri negatif yang sensitif: Campylobacter jejuni, Citrobacter diversus, Citrobacter freundii, Enterobacter cloacae, Escherichia coli, Haemophilus influenzae, Klebsiela pneumoniae, morganella morganii, Neisseria gonorrheae, Proteus mirabilis, Proteus vulgaris, Providencia rettgeri, Providencia stuartii, pseudomonas aeruginosa, Salmonella typhii, Serratia marcescens, Shigella flexneri, Shigella sonnei.

 

Indikasi:

Untuk pengobatan infeksi berat pasien rawat inap Rumah sakit yang tidak bisa diberi Siprofloksasin oral atau pemberian oral tidak tepat. Infeksi yang disebabkan oleh bakteri yang sensitif terhadap Siprofloksasin pada::

  • Infeksi saluran kemih termasuk prostatitis

  • Uretritis dan servisitis gonorhea

  • Infeksi saluran cerna, demam tifoid yang disebabkan oleh S. typhi khasiat Siprofloksasin untuk eradikasi “chronic thypoid carrier” belum diketahui.

  • Infeksi saluran nafas kecuali pneumonia akibat streptococcus

  • Infeksi kulit dan jaringan lunak

  • Infeksi tulang dan sendi.

 

Kontraindikasi:

  • Penderita yang hipersensitif terhadap siprofloksasin atau antibiotik derivat kuinolon lainnya.

  • Wanita hamil dan menyusui

  • Anak-anak di bawah usia 18 tahun.

 

Efek Samping:

  • Efek terhadap saluran cerna

Mual, diare, muntah, gangguan pencernaan, dyspepsia nyeri abdomen, flatulensi, anoreksia, dispagia.

Kalau terjadi diare berat atau persisten selama atau sesudah pengobatan, segera konsultasi pada dokter karena gejala tersebut mungkin menutupi kelainan yang lebih serius (kolitis pseudomembran) yang memerlukan tindaklah segera. Kalau ini terjadi, pemberian Siprofloksasin harus segera dihentikan dan diganti dengan obat lain yang lebih sesuai (misalnya Vancomycin per oral 4 x 250 mg sehari). Obat-obat yang menghambat peristaltik merupakan kontraindikasi.

  • Efek terhadap sistem syaraf

Pusing, sakit kepala, rasa letih, insomnia, agitasi, tremor, sangat jarang: paralgesia perifer, berkeringat, kejang, anxietas, mimpi buruk, konfusi, depresi, halusinasi, gangguan pengecapan dan penciuman, gangguan penglihatan (misal penglihatan ganda, warna-warni). Reaksi kadang-kadang timbul setelah pemberian Siprofloksasin untuk pertama kalinya. Dalam hal ini Siprofloksasin harus segera dihentikan dan segera konsultasi pada dokter.

  • Reaksi hipersensitifitas

Reaksi kulit kemerahan pada kulit pruritus, drug fever. Reaksi anafilaktik/anafilaktoid (seperti edema pada wajah, vaskuler dan larynx, dispnea yang bertambah berat sehingga terjadi syok yang mengancam jiwa). Dalam hal ini Siprofloksasin segera distop, tindakan kedaruratan medis (misal mengatasi syok) harus segera dilakukan.

Hemoragia punklata (petechiae), pembentukan blister disertai pendarahan kulit (bullae haemorrhagica) dan nodulus-nodulus kecil (papula) disertai pembentukan krusta yang menunjukkan adanya kelainan vaskuler (vaskulitis), sindroma Steven-Johnson.

  • Efek terhadap renal/urogenital

Nefritis interstisiel, gagal ginjal, termasuk gagal ginjal yang transient, polyuria, retensi urine, pendarahan urethal, vaginitis dan asidosis.

  • Efek terhadap hati

Hepatitis, sangat jarang: kelainan hati yang luas seperti nekrosis hati.

  • Efek terhadap kardiovaskuler

Jarang: takikardia, palpitasi, atrial flutter, venticular ectopi, sinkope-hipertensi angina pektoris, infark myocardial, cardiopulmonary arrest, cerebral trombosis, wajah merah dan panas, migren, pingsan.

  • Lain-lain

Jarang: nyeri sendi, lemas seluruh tubuh, nyeri otot, tendovaginitis, fotosensitivitas ringan, tinnitus, gangguan pendengaran terutama untuk frekuensi tinggi, epistaksis, larynhgial atau pulmonary edema, hemoptysis, dyspenia, bronchospasm, pulmonary ebolism.

  • Efek pada darah

Eosinofilia, leukositopenia, leukositosis, anemia granulositopenia.

Sangat jarang: trombositopenia, trombositosis, kelainan protombin

  • Efek pada nilai laboratorium/deposit urin

Kadar transaminase dan alkali fosfatase dalam darah mungkin meningkat untuk sementara; ikterus kolestatik dapat terjadi terutama pada pasien yang pernah mengalami kelainan; peningkatan kadar urea, kreatinin dan bilirubin darah secara transien; hiperglikemia; pada kasus tertentu: kristaluria dan hematuria.

 

Peringatan dan perhatian

  • Hati-hati pemberian pada penderita dengan gangguan ginjal (lihat dosis).

  • Pemberian tidak boleh melebihi dosis yangn dianjurkan.

  • Siprofloksasin harus diberikan dengan hati-hati pada penderita usia lanjut. Pada kasus epilepsi danpasien yang pernah mengalami gangguan SSP (misalnya ambang kejang rendah, riwayat konvulsi, aliran darah ke otak berkurang dan stroke). Siprofloksasin hanya diberikan jika manfaatnya lebih besar dibanding resikonya, karena pasien demikian mungkin akan menderita efek samping SSP.

  • Meskipun diberi sesuai resep dokter, obat ini dapat mengganggu respons pasien, kemampuan mengemudi dan menjalankan mesin. Gangguan ini akan lebih berat jika diberi bersama alkohol.

  • Hindarkan penderita dari sinar matahari yang berlebihan. Bila terjadi fototoksisitas pengobatan harus segera dihentikan.

 

Dosis

Dewasa:

  • Infeksi ginjal yang tidak terkomplikasi dan infeksi saluran urin bagian atas dan bawah: 2 x 100 mg sehari

  • Infeksi lain: 2 x 200 mg sehari

  • Gonorrhea akut dan cystitis akut yang tidak terkomplikasi pada wanita: infus tunggal 100 mg. Penderita usia lanjut mungkin diberikan dosis lebih rendah tergantung dari beratnya penyakit dan bersihan kreatinin.

Penderita dengan gangguan fungsi ginjal

Dosis pada gangguan fungsi ginjal:

Bila bersihan kreatinin kurang dari 20 ml/menit, maka dosis normal hanya diberikan 1 kali sehari atau jika diberikan 2 kali sehari, dosis harus dikurangi separuhnya.

 

Overdosis

Jika terjadi overdosis akut, penderita harus terus diamati dan diberi terapi penunjang. Penderita harus diberi cairan elektrolit yang cukup setelah hemodialisa dan peritonial dialisa Siprofloksasin hanya dikeluarkan 10%.

 

Interaksi obat

  • Pemberian Siprofloksasin bersama teofilin dapat meningkatkan kadar teofilin dalam plasma sehingga dapat menimbulkan efek samping teofilin. Apabila kombinasi ini tidak dapat dihindarkan, kadar teofilin dalam plasma harus dimonitor dan dosis teofilin harus dikurangi. Jika kadar teofilin tidak dapat dimonitor, pemberian Siprofloksasin harus dihindari.

  • Kenaikan kadar kreatinin serum untuk sementara terlihat pada pemberian Siprofloksasin bersama cyclosporin. Dalam hal ini, kadar kreatinin serum harus sering dipantau (dua kali seminggu)

  • Harus dipertimbangkan kemungkinan terjadinya interaksi pada pemberian Siprofloksasin bersama probenesid

  • Pemberian bersama Siprofloksasin dan anti-koagulan oral dapat memperpanjang waktu pendarahan.

  • Pemberian bersama metoklopramid mempercepat absorbsi Siprofloksasin.

 

HARUS DENGAN RESEP DOKTER

 

SIMPAN DI TEMPAT SEJUK DAN KERING